Mind

Kontroversi Melahirkan Caesar Vs Normal

By  | 

Mamas, beberapa waktu lalu, sempat terjadi “perang” antar mama di sosial media akibat unggahan salah satu mama yang menyebutkan bahwa wanita yang melahirkan secara caesar tidak hebat dan kurang sempurna. Tentu saja postingan tersebut mengundang berbagai macam reaksi, yang berakhir dengan perdebatan panjang. Hingga beberapa mamas membalas kata-kata tersebut dengan mengatakan wanita yang melahirkan secara normal Miss V-nya akan melebar dan tidak elastis lagi. Haruskah hal ini diperdebatkan?

Smart Mama Story

Rebecca Leppard & son

Rebecca Leppard & son

Mama dari 2 orang anak, Rebecca Leppard mengatakan, “Saat akan melahirkan anak pertama, sebetulnya saya menginginkan persalinan normal. Namun setelah pembukaan 3, tidak bertambah lagi hingga 27 jam, sehingga saya pun melahirkan dengan cara caesar.” Hal tersebut sempat membuat wanita yang akrab disapa Becky ini agak down. Maklum saja, society seringkali menilai mama yang sejati adalah mama yang bisa melahirkan secara normal. Ia bahkan sempat menangis karena merasa telah gagal.

Senada dengan Becky, Mama Dieta Amalia terpaksa melahirkan anak kedua dengan cara caesar, setelah 7 tahun sebelumnya, ia melahirkan dengan cara normal. Hal ini dilakukan guna menyelamatkan sang bayi karena air ketuban sudah berwarna hijau, sehingga si bayi harus segera dilahirkan agar tidak terminum air ketuban. Selama kehamilan itu sendiri, Dieta sempat mengalami pengikatan mulut rahim akibat pembukaan dini kala kehamilannya memasuki usia 4 bulan.

Normal Vs Caesar

Dieta Amalia

Dieta Amalia

Dieta yang pernah merasakan dua proses persalinan mengatakan, “Menurut pengalaman saya sih, saya lebih nyaman melahirkan secara normal ya, meskipun dua-duanya bisa dibilang bertaruh nyawa. Kalau normal itu, saat perut terasa mulas memang sakitnya luar biasa, tetapi setelah pembukaan lengkap dan Si Kecil lahir, recoverynya relatif lebih singkat. Saat melahirkan caesar, meskipun tidak terasa sakit saat proses persalinan, namun saya merasa ngilu saat proses pembedahan dilakukan. Dan setelah efek anestesi hilang, saya kesakitan luar biasa.”

Karena sudah mengalami pembukaan, Becky sempat juga merasakan proses persalinan normal, “Sebetulnya bisa dibilang saya sempat mengalami kedua proses persalinan ya, karena saya juga mengalami pembukaan seperti mama-mama yang melahirkan secara normal.” Hanya saja saat eksekusi akhir, ia harus melahirkan secara caesar. Hal tersebut tidak mengurangi rasa sakit yang dialami. “Memang betul, saat dioperasi saya dibawa pengaruh obat bius, sehingga tidak lagi merasa mulas seperti saat mengalami pembukaan. Namun setelahnya, pemulihan luka setelah caesar juga tidak kalah sakit,” ungkapnya.

Ini Kata Ahli Kandungan…

dr. Putra Ismaya Abral SpOG

dr. Putra Ismaya Abral SpOG

Ditemui dalan acara Smart Mama Office & Community with Sensitif beberapa waktu lalu, dr. Putra Ismaya Abral Sp.OG mengatakan, “Jika ingin dibandingan antara persalinan normal dengan caesar, ¬†begini penjelasannya, wanita yang melahirkan secara normal memang mengalami sakit dan mulas luar biasa menjelang kelahiran Si Kecil. Namun, rasa sakit tersebut berlangsung maksimal hanya 18 jam. Sementara itu, mama yang melahirkan secara caesar akan mengalami rasa sakit bekas luka jahitan dalam waktu yang sangat lama. Belum lagi jahitan tersebut kerap terasa gatal. Jadi sebetulnya dua-duanya sama-sama perjuangan.”

Lebih jauh lagi dokter yang juga papa dari 2 orang anak tersebut mengungkapkan, “Sebetulnya keberadaan operasi caesar adalah ilmu dari yang kuasa. Jika terjadi komplikasi pada mama maupun bayinya, maka masih bisa diselamatkan dengan cara kelahiran caesar. Kalau dulu, mungkin mama atau bayinya bisa jadi tidak tertolong nyawanya.” Disinggung masalah Miss V, dr. Putra menjelaskan, “Sebetulnya tidak ada pengaruhnya cara melahirkan dengan elastisitas Miss V, sama saja kok, tidak akan mengurangi kenikmatan seksual. Yang memengaruhi elastisitas Miss V adalah usia, juga makanan. Oleh karena itu, ada baiknya menjaga pola makan dan berolahraga yang bersifat mengencangkan otot seperti yoga, pilates atau senam kegel.”

Let’s Spread Positive Vibes!

Pada dasarnya, semua mamas menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya kan, Mams? Hanya saja cara yang ditempuh untuk mencapai yang terbaik berbeda-beda, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami oleh masing-masing mama. Lalu mengapa kita harus memperdebatkan perbedaan tersebut jika sebetulnya tujuan kita semua sama? Dan perjuangan seorang mama tidak berhenti hanya sampai proses persalinan saja, perjalanannya masih panjang, kita masih harus mendidik, menjaga, dan membesarkan Si Kecil. Lebih baik kita saling mendukung dan berbagi satu sama lain. Motherhood bukanlah sebuah kompetisi, let’s spread positive vibes and love! (Karmenita Ridwan, Photo: Istockphoto, dok. Pribadi, dok. Smart Mama)

Shares